Jumat, 24 Mei 2013

BEBERAPA ASUMSI DALAM ILMU DAN BATAS PENJELAJAH ILMU

Beberapa asumsi dalam ilmu yaitu :
1. Asumsi dalam Matematika dan Ilmu Alam
Fisika merupakan ilmu teoretis yang dibangun di atas sistem penalaran deduktif yang meyakinkan serta pembuktian induktif yang sangat mengesankan. Namun sering dilupakan orang bahwa fisika pun belum merupakan suatu konsep yang utuh. Artinya fisika belum merupakan pengetahuan ilmiah yang tersusun secara sistemik, sistematik, konsisten, dan analitik berdasarkan pernyataan-pernyataan ilmiah yang disepakati bersama. Di mana terdapat celah-celah perbedaan dalam fisika? Perbedaannya justru terletak dalam fondasi di mana dibangun teori ilmiah di atasnya yakni dalam asumsi tentang dunia fisiknya. Dalam analisis secara mekanistik maka terdapat empat komponen analisis utama yakni zat, gerak, ruang, dan waktu. Newton dalam bukunya Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1686) berasumsi bahwa keempat komponen ini bersifat absolut. Zat bersifat absolut dan dengan demikian berbeda secara substantif dengan energi. Einstein, berlainan dengan Newton, dalam The Special Theory of Relativity (1905) berasumsi bahwa keempat komponen itu bersifat relatif. Tidak mungkin kita mengukur gerak secara absolut, kata Einstein. Bahkan zat sendiri itu pun tidak mutlak, hanya bentuk lain dari energi, dengan rumus yang termasyhur :E = mc2. Pada awalnya kausalitas dalam ilmu-ilmu alam menggunakan asumsi determinisme. Namun asumsi ini goyang ketika MaxPlanck pada tahun 1900 menemukan teori Quantum. Teori ini menyatakan bahwa radiasi yang dikeluarkan materi tidak berlangsung secara konstan namun terpisah-pisah yang dinamakan kuanta. Fisika quantum menunjukkan adanya partikel-partikel yang melanggar logika hukum fisika dan bergerak secara tak terduga
Selanjutnya Indeterministik dalam gejala fisik ini muncul dengan pemenuhan Niels Bohr dalam Prinsip Komplementer (Principle of Complementary) yang dipublikasikan pada tahun 1913. Prinsip komplementer ini menyatakan bahwa elektron bisa berupa gelombang cahaya dan bisa juga berupa partikel tergantung dari konteksnya. Masalah ini yang menggoyahkan sensi-sendi fisika ditambah lagi dengan penemuan Prinsip Indeterministik (Principle of Indeterminancy) oleh Werner Heisenberg pada tahun 1927. Heisenberg menyatakan bahwa untuk pasangan besaran tertentu yang disebut conjugate magnitude pada prinsipnya tidak mungkin mengukur kedua besaran tersebut pada waktu yang sama dengan ketelitian yang tinggi. Prinsip Indeterministik ini, kata William Barret, menunjukkan bahwa terdapat limit dalam kemampuan manusia untuk mengetahui dan meramalkan gejala-gejala fisik.
2. Asumsi ilmu-ilmu sosial
            Masalah asumsi ini menjadi lebih rumit lagi kalau kita berbicara tentang ilmu-ilmu sosial. Masing-masing ilmu sosial mempunya berbagai asumsi mengenai manusia. Siapa sebenarnya manusia? Jawabnya tergantung kepada situasinya : dalam kegiatan ekonomis maka dia makhluk ekonomi, dalam politik maka dia political animal, dalam pendidikan dia homo educandum. Dan kotak-kotak manusia makin lama makin banyak dan makin sempit. Berbagai disiplin keilmuan, dengan asumsinya masing-masing tentang manusia, mencoba mendekati permasalahan itu dari berbagai segi : psikologis, sosiologis, hiburan, pertamanan. Ilmu-ilmu ini bersifat otonom dalam bidang pengkajiannya masing-masing dan “berfederasi” dalam suatu pendekatan multidiscipline.Hal-hal yang diperlukan dalam pengembangan asumsi yaitu : Asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disipin keilmuan; sumsi ini harus disimpulkan dari ‘keadaan sebagaimana adanya’ bukan ‘bagaimana keadaan yang seharusnya’.
3. Batas Penjelajah Ilmu
            ilmu memulai penjelajahannnya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris.
DAFTAR PUSTAKA
Kattsoff, Louis O. Pengantar Filsafat, penerjemah Seojono Soemargono ,Tiara Wacana, Yogyakarta 1995.
Suriasumantri, Jujun S, 1998. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popular. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.

0 komentar:

Poskan Komentar